Selasa, 05 September 2017

TRUE STORY

KEKUATANKU ADALAH SUARA HATIKU
Hari itu sabtu tanggal dua September 2017, saya berangkat dari kota Mbay kota panas menuju Boawae yang sejuk dan penuh misteri. Misterinya Boawae terletak pada dinamikan perjalananku menuju ke sebuah desa, sebuah stasi dan akhirnya menuju sebuah Sekolah Dasar (SD). Ada apa di sana? Berikut dikisahkan:

Dua minggu sebelumnya saya diminta untuk mengisi salah satu sesi pada temu akbar SEKAMI Paroki St. Fransiskus Xaverius Boawae. Temu akbar ini diadakan setiap tahun, kebetulan tahun ini bertempat di stasi Nagerawe yang kesannya sungguh menyeramkan. Yang menyeramkan bukan orang-orangnya, bukan juga suasanaya namun jalannya menuju ke sana. Jika belum berpengalaman dalam menyusuri jalan yang terjal dan penuh batu mending jangan nekat. Kebetulan saya sudah pernah sekali menuju Nagerawe, kala itu dengan mobil milik paroki Boawae, rasanya dinamika perjalanannya cukup menantang. Entah mengapa hari ini saya nekat dan harus ke sana. Adakah sesuatu yang baik dan menarik yang datang dari Nagerawe? Ah tidak perlu banyak mikir, langsung jalan saja. Apapun yang terjadi saya harus ke sana, saya percaya Tuhan Yesus menyertai perjalananku.
Sekitar pukul 08.15 mulai berangkat dari Boawae. Sepuluh menit awal dengan kondisi jalan yang baik tentu merasa sukacita dan senyuman. Saatnya memasuki kondisi jalan yang sangat memprihatinkan, bisa dibilang sudah tidak layak lagi disebut jalan raya. Antara melanjutkan perjalanan atau kembali lagi menjadi bumbu pergulatanku pagi ini. Suara hati ini tetap mengatakan; terus saja, harus percaya diri, kamu pasti bisa, jangan takut. Kekuatanku adalah suara hatiku. Kondisi jalan yang puruk sebetulnya bukan menjadi momok yang  menakutkan bagiku, yang menjadi kegelisahan dan kekwatiranku adalah kondisi motor yang menemaniku. Sempat berpikiran; tiba-tiba di tengah jalan yang terpuruk itu bannya pecah, remnya blong dan macam-macam. Rupanya rasa gelisah dan kwatir itu berlalu begitu saja sebab saudaraku “motor vega” kondisinya baik-baik saja. Sungguh saya merasa bangga dan bersyukur dengan kondisi motorku yang tetap prima. Terima kasih kawan, engkau telah menemaniku sepanjang hari kendati kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. Maafkan bila saya telah melukaimu. Haaaaaaa lebay…

Empat puluh lima menit kutempuh perjalanan yang penuh liku, bebatuan, dan tak terurus ini. Rasa syukur dan sukacita menyelimuti hati ini. Sekitar pukul 09.30 saya tiba di tempat acara, langsung disuguhi kopi hangat oleh panitia acara, di depan ruang istirahatku peserta SEKAMI sedang beraksi  sambil menanti kehadiranku. Kehadiranku bak menanti sang pangeran yang siap meramaikan acara temu SEKAMI ini. haaaa..ah lebay lagi.
Tepat pukul 10.00 saatnya saya harus beraksi. Dihadapan 400 anak SEKAMI saya harus bisa dan siap mengendalikan mereka dengan caraku. Kunci dari temu akbar SEKAMI ini rupanya di sesiku ini. Dikatakan menjadi kunci karena saya harus berbicara mengenai tema yang diangkat pada temu SEKAMI tahun ini yakni “alam yang indah dirawat, dilestarikan hingga anak, cucu”. Caraku mengemas materi tentu lain dari yang lain. Menghadapi anak-anak sekolah dasar tidak boleh ceramah begitu lama, mereka pasti bosan dan jenuh, maka bermodalkan pengalaman akhirnya saya menemukan ide supaya materi yang didalami bersama ini harus dikemas dalam bentuk permainan. Jika dipresentasekan 25 persen materi, 75 persen permainan dan dalam permainan harus dikaitkan dengan materi. Sungguh cara ini berhasil. Mereka begitu antusias menyimak dan mengikuti proses ini.
Sesi pertama dari pendalaman materi ini pun berakhir. Selanjutnya sesi kedua. Sesi kedua saya mengajak mereka DOA ALAM. Tujuannya agar semakin menyadari peserta akan keberadaan mereka sebagai yang merawat dan melestarikan alam ini, tujuan yang lain agar mereka mampu bertobat dan berubah. Awalnya saya  ragu dengan sesi DOA ALAM ini, namun ternyata mereka bisa mengikuti dengan baik dan fokus dengan apa yang saya sampaikan. Berbagai lagu instrument saya putarkan  menemani DOA ALAM siang ini. Teriknya matahari di tempat ini disulap menjadi sejuk, damai dan tenang sebab dalam proses doa ini saya mengajak mereka ke sebuah hutan lebat, duduk di bawah pohon rindang dan disampingnya ada air yang sedang mengalir lembut. Rasanya sejuk dan membantu mereka mengiringi perasaan yang mereka alami saat ini.
Para pendamping yang adalah guru mereka sendiri bahkan pastor kapelan Boawae Rm. Paulus Bongu, Pr menyaksikan langsung peristiwa siang ini. Taka da suara tak ada bisik membisik diantara mereka yang ada hanyalah tenang dan fokus pada apa yang saya katakan. Diakhir doa saya mengajak peserta untuk membangun niat atau rencana apa yang akan dibuat setelah kegiatan ini. niat-niat tersebut ditulis dan dimasukan ke amplop yang telah disiapkan dan akan dijadikan bahan persembahan saat misa penutup kegiatan ini.

Itulah ceritaku siang ini, meskipun perjalanan menuju tempat acara ini sangat menantang namun mendatangkan sukacita dan damai. Jika direnungkan dan mengambil hikmat dari pengalaman hari ini bisa disimpulkan bahwa “ menjadi pelayan Tuhan, tidak hanya di tempat yang nyaman dan mudah dijangkau, tidak harus berkendaraan yang mewah dan jalan yang mulus. Menjadi pelayan-Nya harus mampu melewati berbagai tantangan dan kondisi jalan yang tak tentu, kekuatan dari pelayanan ada pada niat, kemauan dan kerelaan dalam berbagi cinta dan sukacita.
Terima kasih Tuhan untuk waktu dan pengalaman hari ini. saya merasakan Engkau terlibat penuh dalam peristiwa hidupku hari ini. Selamat dan profisiat buat peserta temu SEKAMI paroki Boawae tahun ini, kalian hebat kalian luar bisa. Salam PKD…

Mbay, Sept, 2017
Libertcsa


 Foto-foto lain:

Foto 1: masih di biara sesaat sebelum berangkat



Foto 2: 
salah satu game...




Foto 4:
Bersama Rm. Paulus Bongu, Pr



Foto 5:
Selfi waktu perjalanan pulang





Tidak ada komentar:

Posting Komentar