KEKUATANKU
ADALAH SUARA HATIKU
Hari itu sabtu tanggal dua September
2017, saya berangkat dari kota Mbay kota panas menuju Boawae yang sejuk dan
penuh misteri. Misterinya Boawae terletak pada dinamikan perjalananku menuju ke
sebuah desa, sebuah stasi dan akhirnya menuju sebuah Sekolah Dasar (SD). Ada
apa di sana? Berikut dikisahkan:
Dua minggu sebelumnya saya diminta untuk
mengisi salah satu sesi pada temu akbar SEKAMI Paroki St. Fransiskus Xaverius
Boawae. Temu akbar ini diadakan setiap tahun, kebetulan tahun ini bertempat di
stasi Nagerawe yang kesannya sungguh menyeramkan. Yang menyeramkan bukan
orang-orangnya, bukan juga suasanaya namun jalannya menuju ke sana. Jika belum berpengalaman
dalam menyusuri jalan yang terjal dan penuh batu mending jangan nekat. Kebetulan
saya sudah pernah sekali menuju Nagerawe, kala itu dengan mobil milik paroki
Boawae, rasanya dinamika perjalanannya cukup menantang. Entah mengapa hari ini
saya nekat dan harus ke sana. Adakah sesuatu yang baik dan menarik yang datang
dari Nagerawe? Ah tidak perlu banyak mikir, langsung jalan saja. Apapun yang
terjadi saya harus ke sana, saya percaya Tuhan Yesus menyertai perjalananku.
Sekitar pukul 08.15 mulai berangkat dari
Boawae. Sepuluh menit awal dengan kondisi jalan yang baik tentu merasa sukacita
dan senyuman. Saatnya memasuki kondisi jalan yang sangat memprihatinkan, bisa
dibilang sudah tidak layak lagi disebut jalan raya. Antara melanjutkan
perjalanan atau kembali lagi menjadi bumbu pergulatanku pagi ini. Suara hati
ini tetap mengatakan; terus saja, harus
percaya diri, kamu pasti bisa, jangan takut. Kekuatanku adalah suara hatiku. Kondisi jalan yang puruk sebetulnya
bukan menjadi momok yang menakutkan
bagiku, yang menjadi kegelisahan dan kekwatiranku adalah kondisi motor yang
menemaniku. Sempat berpikiran; tiba-tiba di tengah jalan yang terpuruk itu
bannya pecah, remnya blong dan macam-macam. Rupanya rasa gelisah dan kwatir itu
berlalu begitu saja sebab saudaraku “motor vega” kondisinya baik-baik saja.
Sungguh saya merasa bangga dan bersyukur dengan kondisi motorku yang tetap
prima. Terima kasih kawan, engkau telah menemaniku sepanjang hari kendati
kondisi jalan yang sangat memprihatinkan. Maafkan bila saya telah melukaimu. Haaaaaaa
lebay…
Empat puluh lima menit kutempuh
perjalanan yang penuh liku, bebatuan, dan tak terurus ini. Rasa syukur dan
sukacita menyelimuti hati ini. Sekitar pukul 09.30 saya tiba di tempat acara,
langsung disuguhi kopi hangat oleh panitia acara, di depan ruang istirahatku
peserta SEKAMI sedang beraksi sambil
menanti kehadiranku. Kehadiranku bak menanti sang pangeran yang siap meramaikan
acara temu SEKAMI ini. haaaa..ah lebay lagi.
Tepat pukul 10.00 saatnya saya harus
beraksi. Dihadapan 400 anak SEKAMI saya harus bisa dan siap mengendalikan
mereka dengan caraku. Kunci dari temu akbar SEKAMI ini rupanya di sesiku ini.
Dikatakan menjadi kunci karena saya harus berbicara mengenai tema yang diangkat
pada temu SEKAMI tahun ini yakni “alam
yang indah dirawat, dilestarikan hingga anak, cucu”. Caraku mengemas materi
tentu lain dari yang lain. Menghadapi anak-anak sekolah dasar tidak boleh
ceramah begitu lama, mereka pasti bosan dan jenuh, maka bermodalkan pengalaman
akhirnya saya menemukan ide supaya materi yang didalami bersama ini harus
dikemas dalam bentuk permainan. Jika dipresentasekan 25 persen materi, 75
persen permainan dan dalam permainan harus dikaitkan dengan materi. Sungguh
cara ini berhasil. Mereka begitu antusias menyimak dan mengikuti proses ini.
Sesi pertama dari pendalaman materi ini
pun berakhir. Selanjutnya sesi kedua. Sesi kedua saya mengajak mereka DOA ALAM.
Tujuannya agar semakin menyadari peserta akan keberadaan mereka sebagai yang
merawat dan melestarikan alam ini, tujuan yang lain agar mereka mampu bertobat
dan berubah. Awalnya saya ragu dengan
sesi DOA ALAM ini, namun ternyata mereka bisa mengikuti dengan baik dan fokus
dengan apa yang saya sampaikan. Berbagai lagu instrument saya putarkan menemani DOA ALAM siang ini. Teriknya
matahari di tempat ini disulap menjadi sejuk, damai dan tenang sebab dalam
proses doa ini saya mengajak mereka ke sebuah hutan lebat, duduk di bawah pohon
rindang dan disampingnya ada air yang sedang mengalir lembut. Rasanya sejuk dan
membantu mereka mengiringi perasaan yang mereka alami saat ini.
Para pendamping yang adalah guru mereka
sendiri bahkan pastor kapelan Boawae Rm. Paulus Bongu, Pr menyaksikan langsung peristiwa
siang ini. Taka da suara tak ada bisik membisik diantara mereka yang ada
hanyalah tenang dan fokus pada apa yang saya katakan. Diakhir doa saya mengajak
peserta untuk membangun niat atau rencana apa yang akan dibuat setelah kegiatan
ini. niat-niat tersebut ditulis dan dimasukan ke amplop yang telah disiapkan
dan akan dijadikan bahan persembahan saat misa penutup kegiatan ini.
Itulah ceritaku siang ini, meskipun
perjalanan menuju tempat acara ini sangat menantang namun mendatangkan sukacita
dan damai. Jika direnungkan dan mengambil hikmat dari pengalaman hari ini bisa
disimpulkan bahwa “ menjadi pelayan Tuhan, tidak hanya di tempat yang nyaman
dan mudah dijangkau, tidak harus berkendaraan yang mewah dan jalan yang mulus.
Menjadi pelayan-Nya harus mampu melewati berbagai tantangan dan kondisi jalan
yang tak tentu, kekuatan dari pelayanan ada pada niat, kemauan dan kerelaan
dalam berbagi cinta dan sukacita.
Terima kasih Tuhan untuk waktu dan
pengalaman hari ini. saya merasakan Engkau terlibat penuh dalam peristiwa
hidupku hari ini. Selamat dan profisiat buat peserta temu SEKAMI paroki Boawae
tahun ini, kalian hebat kalian luar bisa. Salam PKD…
Mbay, Sept, 2017
Libertcsa
Foto-foto lain:
Foto 1: masih di biara sesaat sebelum berangkat
Foto 2:
salah satu game...
Foto 4:
Bersama Rm. Paulus Bongu, Pr
Foto 5:
Selfi waktu perjalanan pulang








Tidak ada komentar:
Posting Komentar