Rabu, 09 Agustus 2017

Puisi

BUKIT KASIH & DAMAI

Lihatlah kota itu
Begitu mempesona
Pagi ini aku diajaknya utk brdialog
Dialog kasih dialog perdamaian

Alam dan kekayaannya adalah rahmat cuma2 dari-Nya
Tuhan menciptakannya untuk manusia
Merasakan indahnya alam ciptaan ini adalah suatu kekuatan
Tak ada kebencian didalamnya

Selalu ada kasih selalu ada damai
Kasih dan Damai menyatu menjadi satu
Satu dan sama menuju persaudaraan sejati
Sapaan kasihNya nampak kurasakan pg ini

Lihatlah pandanglah dari bukit ini
Kusebut bukit ini adalah bukit kasih dan Damai
Kota yang kupandangi adalah gambaran perdamaian
Tak ada kebencian di sana
Tak ada perpecahan
Yang ada hanyalah perdamaian

Harusnya Indonesia pun demikian
Pancasila adalah gambaran Cinta
Bhineka Tunggal Ika adalah persaudaraan
Cinta harus diwujudkan dengan persaudaraan
Saling menghargai dan saling menyatu
Itulah Indonesiaku

Indonesiaku sebentar lagi engkau merayakan HUT kemerdekaanmu
Usiamu yg kini masuk kepala tujuh bukanlah usia tanpa jejak
Jejakmu dari tahun 1945 adalah jejak kepastian, jejak persatuan
Kini Indonesiaku memasuki usia 72 tahun kemerdekaan

Kota yg indah nan mempesona itu tentu merasakan perjuanganmu
Kini kuberharap tetaplah menebarkan kasih dan damai
Teruslah berbagi Cinta
Pertahankan persatuan dan kesatuan
Sebab didalam kasih ada damai
Dan damai selalu mendtangkan prrsatuan

Bukit Kasih & Dami
8/8/2017
Refleksi HUT RI ke-72

Refleksi

MERASAKAN YANG DIRASAKAN
Tiga hari telah berlalu kusendiri dalam sepi. Tak ada teman tak ada kawan yang ada hanyalah kerinduan akan kenangan bersama sang kota damai dan penuh pluralis. Ingin kuberteriak namun aku malu karena aku bukanlah makhluk hysteria, aku adalah makhluk yang punya rasa dan kehendak bebas. Ingin kukembali pada kenangan di kota itu, namun aku harus berada disini untuk kesekian waktu karena disiniliah aku diutus. Dalam keheningan bercampur kegalauan saya menemukan begitu banyak cerita dan pengalaman iman yang membuatku semakin hidup. Salah satu perasaan itu kuungkapkan dalam status Sosmedku #FB# edisi senin 11 Juli’16  “hidup adalah anugerah maka harus disyukuri, setiap hidup pasti punya pilihan dan pilihan itu selalu ada resiko dan konsekuensi”.
Perjalanan tiga hari dalam kesendirian kiranya cukup bagi saya untuk menemukan arti kesendirian dalam sepi. Kusendiri dalam sepi bukan tanpa makna, situasi seperti inilah yang membuatku bahkan bagi mereka yang sempat membaca tulisan ini merasa bahagia dan bersyukur, karena disana terurai rasa dan kata yang membuat hidup ini menjadi sangat berarti dan berguna bagi yang lain. Hidup tanpa direfleksikan sama halnya dengan hidup yang tanpa dihidupi oleh sang sumber hidup. Kehidupan itu menjadi sangat berarti bila saya dan anda bisa memberi kehidupan bagi makhluk yang lain. Di sekitarku ada makhluk lain yang butuh disentuh, dikasihi oleh perhatian dan empati kita. “ maukah aku melakukannya”? betapa arogannya aku, betapa cueknya aku bila kumelihatnya hanya dilihat saja tanpa kusapa dan kuberi senyuman.
Perjalanan hari yang ketiga di tempat ini merupakan kesempatan terindah dan berahmat bagiku. Segala rasa menjadi satu, sedih, senang, galau, marah, putus asa, bahagia, rindu dan lain sebagainya. Perasaan seperti ini rasa-rasanya menjadi sangat terasa tatkala aku merasakan seperti yang tidak kurasakan sebelumnya. Dalam satu rasa sempat kukatakan kenapa ini harus terjadi, apakah hal ini harus kurasakan? Merasakan sesuatu pada suatu perasaan kiranya menjadi penting untuk dirasakan sehingga hidup ini terasa indah dan damai. Cukuplah perasaan itu kuungkapkan saat ini, rasa yang lain pasti akan datang diesok hari menjelang hadirnya kembali sang embun pagi.

Libertcsa

Senin 110716


Prosa

AKU TERLUKA KARENANYA….

(Sebuah prosa dipersembahkan untuk para saudara muda)
Dia telah melukaiku, perasaanku dilemma oleh karena tingkahnya yang konyol dan membeo itu. Entah dimana peran hati nuraninya, juga bagaimana perasaannya ketika dia diperlakukan sama seperti yang dilakukan terhadapku. Dari hati yang mendalam semenjak aku melihat peristiwa itu sejujurnya hati ini tak mampu mengatakan sesuatupun. Aku kaget dan sedih bercampur kecewa, terasa hatiku dilukai lagi dengan ketidaktahuannya tentang sesuatu hal yang penting baginya untuk diketahui.  
Sungguh dia melukai perasaanku, kesombongan dan kebodohannya itu semakin kubertanya dalam hati: “ benarkah dia mencintai DIA yang memanggilnya”?, bagaimana  cara dia dalam menghayati berelasi? Semenjak aku mengenalnya, aku sejujurnya sudah tidak suka dengannya. Aku tidak suka caranya bersikap, caranya bertutur kata. Dia terkadang aneh, selalu menyendiri dan Nampak ketika peristiwa sore ini meyakinkanku bahwa dia memang kurang waras. Cara dia bertindak menunjukan bahwa dia belum paham apa arti sebuah kehidupan. Kehidupan yang butuh kerja keras, kehidupan yang butuh cinta dan mau menghargai serta kehidupan yang selalu membawa nuansa kehidupan itu sendiri.
Kehidupan yang dia jalani dan hayati selama ini hanyalah sebuah symbol bahwa dia memang hidup, tetapi untuk menuju pada pemaknaan dan arti kehidupan itu yang sesungguhnya belum sampai kesana. Arah hidupnya masih perlu ditopang dengan cara santun. bukan dengan cara sebagaimana cara dia melukai sesamanya. Sungguh bahwa aku tidak punya harapan lagi karenanya, pada hal aku masih dibutuhkan oleh orang yang membutuhkannya.
Sayang seribu sayang tak kunjung henti untuk mengubahnya, telah banyak cara agar dia mau berubah dari sikapnya yang membeo itu, memang aku tahu hanya dia sendiri yang mampu mengubah dirinya jika ia mau berubah, namun setidaknya dia harus belajar  “mendengarkan”. Pendengarn dan mata jadi satu. Kalau matanya tidak mampu melihat hal-hal yang kecil dan berharga, pasti telinga ikut terpengaruh untuk tidak mendengar apa-apa ketika ada orang lain menegurnya.
Terasa sekali sakitnya hati ini, bukan hanya kepada dia yang sungguh terlukai, namun saya juga dan teman-teman lain yang melihtnya pasti kecewa dan sedih. Dengan perasaan seperti ini muncul pertanyaan dalam hati “ kenapa dia melakukan itu”? kenapa secepat itu dia memberi tindakan seperti itu? Tanpa berpikirkan dia sebelum melakukan? Peristiwa yang konyol itu menandakan bahwa dia kurang berpengetahuan, kurang berefleksi dan kurang berdiscernment.
Seandainya dia tahu bagaimana sulitnya mencari nafkah, beratnya meraup sesuap nasi, dan seteguk  teh manis, panasnya terik matahari di siang bolong, tanpa ada istirahat siang, yang ada hanya alat kerja berupa pacul, linggis, tofa, dan bahkan bila kerja di bengkel kayu yang dijumpai setiap hari hanya alat pemotong kayu, pahat, palu, dll. Lalu kalau di bengkel otomotif yang dijumpai hanya oli kotor, obeng, maur/baut dan masih banyak alat lain yang butuh perhatian dan ketelitian. Kalau dia sadar akan hal ini Pasti dia tidak melakukan tindakan sekonyol itu. Namun karena ketidaktahuannya itu dan karena minimnya dia merefleksikan tentang sesuatu hal, maka akibatnya fatal seperti ini. Yang rugi bukan hanya saya tetapi juga orang lain yang melihat dan mengetahui peristiwa itu.
Aku memang kurang sempurna, namun aku sadar bahwa tindakannya dia itu membuat kacau semuanya. Perasaan ini serasa ada debu halus masuk ke mata yang membuat segala sesuatu sulit untuk dilihat, tak mampu lagi melihat sesuatu yang indah dihadapanku. Yang seharusnya indah lantas menjadi kabur tak karu-karuan. Engkau, dimanakah hatimu saat engkau melakukan tindakan sekonyol itu. Masihkah ada cerita indah dikala ada rindu yang mendalam? Rindu ingin berjumpa lagi dengannya, tatkala ada kenangan yang tak bisa kulupakan, namun kerinduan itu telah terbawa EGO dan keangkuhan oleh karena ulahnya yang konyol itu.
Kisah kasih bersamanya harus berakhir sampai disini, tak ada kata tidak untuk memberi alasan agar tetap menjaga eksistensinya. Pupus harapan untuk melanjutkan kisah indah bersamanya, dia tak mampu lagi memberi harapan yang berarti bagiku dan bagi sesama. Nilai moralnya tak ada lagi, cintanya yang dulu membara, kini menjadi beku dan kaku yang membuat orang menjadi berat dan sulit mengisi kembali ruang hatinya. Aku tidak tahu apakah ada harapan lagi untuk ada bersamanya, rupanya harapan hanya tinggal harapan kerinduan hanya tinggal kerinduan. Yang ada hanya ada kata benci dan marah, kecewa dan malu, sebab dia telah melukaiku dan membuatku menjadi kurang percaya diri lagi. Aku terasa ada dalam situasi yang mengacaukan, rupaku tak lagi serupa dulu, kemolekan wajahnya kini pupus termakan benci yang mendalam. Keindahan yang menghalaukan mata banyak orang, kini menjadi hancur berantakan. Tak ada harapan lagi, tak ada cinta, tak ada rindu apalagi berjumpa lagi. Yang ada hanyalah benci dan marah.
Pi ..mi……aku ingin pulang, perasaan ini tak sanggup lagi menahannya. Aku terlanjur terluka oleh tindakannya yang konyol itu, sulit untuk kumaafkan perbuatannya. Terasa berat dan sulit kulupakan, karena ini menyangkut masa depanku. Masa depan yang seharusnya selalu cerah, kini terkubur oleh hinaan dan cercaannya  yang menyakitkan.
“belajarlah untuk mendengarkan”
“terinspirasi dari salah seorang saudara muda yang membuang ikan Pindang di tempat sampah”

Br.Libert, CSA
Dalam keheningan dan pergulatan